Mendengar Merdunya Suara Adzan di Bangkok

Oleh: Dodi Rosadi

 

Jika anda berwisata ke kota Bangkok Thailand, Bagi kaum muslimin saya sarankan jangan hanya mengunjungi kuil-kuilnya saja. Coba rasakan juga suara adzan ketika subuh tiba,atau shalat berjam’at disana. Suara adzan nya terdengar syahdu bersama sepoi angin Bangkok yang hangat. Mesjid Jawa itulah tempatnya.

Sebulan yang lalusaya beserta beberapa teman berkesempatan datang kesana. Kami datang pas adzan subuh berkumandang. Menelusuri jalan jalan kecil sambil mencari-cari datangnya suara adzan tersebut. Kebetulan kami menginap di hotel di daerah Lumphini yang tidak jauh dari masjid tersebut.

Setelah naik taksi dari hotel, kami turun di jalan Thanon Charoen Rat dekat jembatan penyebrangan. Dijalan tersebut kami mendengar adzan subuh berkumandang. Suasana sangat sepi, para pedagang sedang menyiapkan dagangannya. Lalu kami memasuki jalan yang lebih kecil mungkin 3 atau empat belokan dituntun suara adzan, kami tiba di jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9.

Kami berhenti di sebuah papan nama yang cukup besar yang bertuliskanJawa Mosque. Sesaat kami tersentak karena kami seakan berada di kampong halaman. Mesjid itu bercat hijau dengan bentuk seperti mesjid-masjid agung di tanah jawa. Atau lebih tepatnya seperti masjid Agung Jogjakarta, tapi ini lebih kecil sedikit ukurannya sekitar 12 meter x 12 meter. Dengan atap limas an berundak tiga serta tiang sokoguru yang berjumlah empat tiang.

Tiba di gerbang, kami disambut seorang santri dengan ramah, yang sebelumnya beliau sedang melaksanakan wudlu. Wudlu disana sambil duduk di atas kursi yang disiapkan berjajar menghadap keran-keran yang berjajar pula.

Masjid ini disebut masjid Jawa karena memang didirikan oleh orang Jawa di Bangkok

Masjid ini disebut masjid Jawa karena memang didirikan oleh orang Jawa di Bangkok

Tak lama kemudian kamipun shalat berjamaah untuk shalat subuh. Shalatnya sungguh khusuk, meskipun ketika saya hitung hanya dua syaf atau dua baris mamum saja.

Masjid Jawa ini dijadikan rujukan bagi kaum Muslimin Thailand untuk belajar disana. Karena selain terdapat masjid, disana juga ada semacam sekolah atau madrasah. Khusus untuk penduduk beretnis Jawa atau turunan jawa mesjid ini adalah tempat berkumpuldi antara mereka. Terutama di bulan Ramadhan maupun hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, setidaknya hal itu dituturkan oleh bapak Syarif pengurus DKM masjid jawa tersebut.

Mesjid Jawa tersebut berada di Kampung jawa, penduduknya kira-kira dua juta orang. Beberapa anak mudanya biasanya berkuliah di Indonesia. Ada yang kuliah di ITB, UI, IKIP dan lain-lain. Seperti Aswan yangkatanya alumni Perminyakan ITB. Walau berada di kampong Jawa, mesjid itu terbuka untuk siapa saja.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka berada disana? Konon mereka berada disana akibat mereka dibawa oleh Raja Chulalongkorn ke Bangkok, Thailand. Setelah beliau bertamu ke pulau jawa dan melihat keindahan taman-taman di Jawa. Namun versi lain menyebutkan mereka dibawa tentara Jepang untuk dipekerjakan di perkebunan.

Yang menjadi tetua kampong jawa tersebut adalah turunan dari Kiayi Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, yaitu cucu beliau Walidah Dahlan. Persaudaraan serta toleransi mereka sepertinya patut di contoh, baik sesame kaum muslimin maupun dengan kaum mayoritas umat Budha disana. Terutama saudara kita kaum Budha yang sangat toleran menjaga kerukunan diantara kaum muslimin yang sedikit di kota Bangkok.

Sepulang dari masjid kami kembali ke jalan utama di jalan Thanon Charoen Rat, kembali menelusuri jalan kecil dan matahari mulai bersinar. Rupanya kali ini kami tersesat sampai jalan Sathon Thai, tidak ketempat semula. Di Sukhsa School, kami bertemu para beberapa  biksu muda,  berjejer memandang kedepan, orang orang disana memberikan uang serta makanan, saya pun menghampiri mereka lalu memberikan sedekah beberapa Bath dengan ikhlas, dalam hatiku berkata, Terimakasih Biksu, telah menjaga saudara-saudara muslim kami di Kampung Jawa.


 

 

 

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published.

*