Ulama Al-Azhar Mesir Puji Bacaan Alquran Langgam Jawa Sebagai hal yang Unik Sekali !

Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo selalu saja tak pernah berhenti dari kritikan, terutama dari musuh politik dan para underbownya. Pembacaan Alquran pada Acara Perayaan Isra miraj di Istana Negara Jumat, 15/5/2015 lalu tak luput dari kritikan-kritikan pedas. Sebut saja situs PKSPiyungan.org yang menyebut sebagai upaya deislamisasi. Atau situs Dawaktuna yang mengutip sebuah Hadist yang mengatakan, Barang siapa yang ganjil, maka nanti masuk neraka. Karena neraka khusus untuk orang-orang yang ganjil, Karena menganggap pembacaan alQuran lagam Jawa itu sebagai hal yang ganjil.
Sementara itu, Menteri Agama Republik indonesia Lukman Hakim Saifuddin beralasan bahwa pembacaan Alquran dengan langgam Jawa adalah untuk menjaga tradisi Penyebaran Islam di Nusantara. Seperti yang beliau Twt di akunnya @lukmansaifuddin, Minggu (17/5/15),
Tujuan pembacaan Alquran degan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air,



 

 

 

Berbeda dengan di tanah air, para Al-Azhar Mesir Puji Bacaan Alquran Langgam Jawa Sebagai hal yang Unik Sekali ! Hal ini di rilis di BlogerMesir.org dimana admin situs tersebut berhasil mewawancarai beberapa ulama kenamaan Mesir mengenai fenomena ini. Dibawah ini tanggapan para ulama Al-Azhar mengenai pembacaan Alquran dengan menggunakan langgam Jawa dari budaya Indonesia.
1. Syaikh Jamal Faruq Al-Daqqaq seorang Dekan fakultas Dawah Universitas Al-Azhar , dan anggota ulama pakar Al-Azhar mengatakan,
Bacaan ini unik sekali, menunjukan bahwa yang membaca adalah bukan orang Arab atau disebut natijatulujmah & orang non-arab memiliki langgam dan cara mengejanya tidak sepenuhnya sama seperti lisan orang Arab. Maka dari itu, harus diperhatikan Thariqoh al-Adaa` atau cara eksekusi bacaan. Oleh sebab itu ada bab Qiroaat Sabah yang merupakan salah satu latar belakangnya adalah permasalah ini.
Bahkan beliau tidak segan memuji sang qori dengan mengatakan, “Sang qori memperhatikan betul kaidah tajwid dengan pengahayatan saat membacanya.
2. Syaikh Ahmad Hajin seorang Pengajar ilmu Hadis di Al-Azhar
Tanggapan beliau sama dengan Syaikh Jamal Faruq yang mengatakan bahwa yangterpenting adalah tajwidnya, pemahaman terhadap maknanya.. karena irama mengikuti artikulasi teks yang dibacanya.
3. Syaikh Toha Hubaisyi seorang Anggota pentashih Alquran Mesir dan pengajar senior ilmu Tasawuf dan beliau juga hafal kitab Ihya Ulumuddin milik Imam Al-Ghazali, Mengatakan,
Boleh membaca Alquran dengan langgam jawa tersebut dengan syarat tetap memerhatikan tempat keluar huruf (makhraj) dan kaidah tajdwid. Sebab, kata beliau, seseorang yang membaca Alquran dengan bahasa Arab, ketika yang membacanya mengerti atau tidak, tepat atau tidak hakikatnya, maknanya telah sampai kepada Allah.
Dari ketiga Ulama Mesir tersebut, seharusnya kita bisa berlaku seperti para Ulama tersebut yang mengatakan bahwa Bacaan Alquran Langgam Jawa Sebagai hal yang Unik Sekali ! Atau kita punya pandangan sendiri?
(mang Odoy)

Sumber: http://muslimin.org/2015/05/22/ulama-al-azhar-mesir-puji-bacaan-alquran-langgam-jawa-sebagai-hal-yang-unik-sekali/ dan http://bloggermesir.org/2015/05/18/ulama-al-azhar-mesir-bacaan-alquran-langgam-jawa-unik-sekali/ , http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2015/05/18/37020/heboh-bacaan-al-quran-dengan-langgam-jawa-saat-isra-miraj-di-istana/#sthash.vPTcC9jN.dpbs dan http://www.pkspiyungan.org/2015/05/langgam-jawa-bacaan-al-quran-di-istana.html

Leave a comment

Your email address will not be published.

*