Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di minta Cak Nun Untuk Tidak Berhenti Mengembangkan Budaya Sunda

Emha Ainun Nadjib dan para penggemar

Campuracun! begitu ledekan pimpinan salah satu Ormas Islam terhadap salam orang Sunda beberapa minggu yang lalu. Yang dalam hal ini awalnya ditujukan ke kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan ternyata menjadi semacam efek domino bagi sebagian orang sunda yang marah karena budayanya di lecehkan.

Tidak sampai disitu, tudingan krisis akidah bagi kabupaten Purwakarta karena dipimpin oleh Dedi Mulyadi juga dilayangkan oleh Ormas Islam tersebut.

Kenyataan di atas menjadi sorotan Kyai asal Jombang Jawa Timur Emha Ainun Najib alias Cak Nun, pada pengajiannya di  saat mengisi ceramah keagamaan di Pendopo Kabupaten Purwakarta, Sabtu (12/12/2015) lalu.

Menurut Cak Nun, tudingan itu seharusnya disikapi dengan rasa syukur dan menjadikan masyarakat Purwakarta merasa senang. Karena dengan tuduhan itu masyarakat Purwakarta bisa bersikap lebih bijak dan merasa diri sudah benar.

“Saya gembira, Purwakarta disebut darurat aqidah. Karena saya lihat daerah ini sebagai daerah yang paling penting dengan aqidah,” ujar Cak Nun.

Dikesempatan itu pula Cak Nun menyarankan, agar Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi agar tak berhenti untuk mengembangkan kebudayaan Sunda. “Tanaman di tanah sunda tidak bisa di tanah Arab, maka orang sunda jangan disuruh jadi orang Arab, itu syariat Allah. Maka orang Sunda tetap jadi orang Sunda,” ujar Cak Nun dengan nada yang berapi-api.

 

 

 

Disinggung mengenai pernyataan Habib Rizieq Shihab, yang menyebutkan jika Bupati Dedi Mulyadi, sebagai sosok pelaku penyimpangan agama, dan berusaha membawa masyarakatnya dalam perilaku syirik. Cak Nun menilai pihak yang melontarkan tuduhan itu bisa bersikap bijak lagi, karena budaya dan agama selalu memiliki hubungan yang sangat erat.

“Islam dan budaya keduanya saling menyokong, Islam dapat dilaksanakan secara kaffah, apa tidak sadar bahwa masjid, sajadah baju merupakan produk budaya. Soal patung yang saya tahu hanya ada dua patung yang tidak jelas – jelas berhala, yaitu latta dan uza, dan kalau bukan Allah atau Nabi yang ngomong biarkan saja,” ujarnya.

Tentunya pernyataan Cak Nun dan juga Habib Riziek harus di tanggapi dengan bijak sana oleh umat. Sekali-kali boleh dong Umat bijaksana dari pada para pimpinanya, baik pimpinan Agama maupun pimpinan negara. Supaya hidup tidak penuh dengan kebencian. Yang berujung pada saling memusnahkan! Pen.(Mang Odoy )

Leave a comment

Your email address will not be published.

*