Jangan Ragu Ucapkan Mohon maaf Lahir Bathin!

Oleh: Dodi Rosadi Spd.

14370410904443

Pada hari-hari di akhir bulan Ramadhan sudah dua atau tiga tahun terakhir muncul pengumuman berupa BC di Whatsup maupun BBM yang bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah? Yang intinya menyalahkan kebiasaan orang Indonesia mengucapkan Maaf Lahir Bathin. Berikut adalah isi dari BC tersebut:.

“Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: MOHON MAAF LAHIR&BATHIN.

Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri.

Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan Mohon Maaf Lahir&Batin di saat-saat Idul Fitri.


Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: Kita kembali&meraih kemenangan.


KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?


Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “MinalAidin wal Faizin Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin .

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!


Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.


Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

“TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

TANGGAPAN MUSLIMIN.ORG:

Riwayat yang menjelaskan ucapan ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’ dituturkan oleh Muhammad bin Ziyad. Ia menceritakan sebuah kejadian ketika bersama Abu Umamah al-Bahili dan lainnya dari sahabat Rasulullah SAW. Syahdan, sepulang dari Shalat Id, mereka saling mengatakan,

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Imam Ahmad menjelaskan, sanad hadits Abu Umamah ini 100% Jayyid.

Kemudian Ali bin Tsabit berujar,

سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال: لم يزل يعرف هذا بالمدينة.
“Aku bertanya pada Malik bin Anas sejak 35 tahun. Dia menjawab, ‘Hal (ucapan) ini selalu ditradisikan di Madinah.”

Selain itu dalam Sunan al-Baihaqi disebutkan,

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.
Diriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan, ia berkata, “Aku bertemu Watsilah bin Asqa’ pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, ‘Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’. Beliau menjawab, ‘Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

Kedua riwayat ini memberikan benang merah, ucapan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’ merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru’) dan hukum mengucapkannya sunnah.

Apakah Ucapan Lain Tidak Boleh?
Ucapan selamat atautahniahatas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat istiadat dalam hal ini Indonesia yang pemaaf. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh (lihat: al-Adab al-Syar’iyah, jilid 3, hal. 219).

Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta’ziyah (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100).

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang ‘taqabbalallahu minna wa minkum’. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.
Minta Maaf di Idul Fitri Keliru?
Orang yang minta maaf di hari Raya, in syaa-Allah tidak meyakini minta maaf itu hanya khusus di hari Raya. Ini adalah ikhtiar untuk kesempurnaan ibadah.

Islam agama paripurna. Tidak sempurna iman seseorang sampai dua sisi tali hablun minallah dan hablun minannas sama-sama dikuatkan. Dan saling memaafkan adalah usaha untuk saling mengerti di antara sesame.Dalam sekian hadits dijelaskan misalnya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ‘hendaknya dia menghormati tamunya’, ‘hendaknya dia mengatakan yang baik atau diam’, dan seterusnya.

Surat al-Ma’un juga menjelaskan, pendusta hari pembalasan itu orang yang menolak anak yatim dan tidak memperdulikan orang miskin. Shalat itu tanha ‘anil fahsyaa-i wal munkar. Zakat atau sedekah itu tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha.

Dus, dari sekian penjelasan baik dari al-Qur’an maupun Sunnah itu, akhirnya seorang muslim sangat memahami, ada misi kebaikan secara vertikal dan horizontal. Siapa yang mengaku bertauhid, harus baik pula dalam wilayah sosial. Kalau puasa Ramadhan adalah hubungan baik secara vertikal, mengapa kemudian untuk minta maaf pascaramadhan sebagai ranah sosial dilarang?

Oleh sebab itu mari kita Selalu saling memaafkan kita jadikan tradisi bangsa sehingga kita terhindar dari rasa benci akan sesame yang biasa di impor dari timur tengah akhir-akhir ini. Biarkanlah konflik Timur Tengah jangan kita impor ke Indonesia.

Sallam Warahmah

Selamat merayakan Idul Fitri.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Minal ‘aidin wal faizin.
Mohon maaf lahir batin…

Leave a comment

Your email address will not be published.

*